Rupiah Mendekati Rp18.000, Apa Rencana Keuangan yang Harus Dilakukan?
Rupiah kian lemah mendekati Rp18.000 per dolar AS. Apakah kita harus panik dan borong dolar AS? Kami berikan 2 solusi ini.
Rupiah sempat melemah hingga Rp18.000 per dolar AS pada 3 Juni 2026. Artinya, dalam setahun terakhir, rupiah sudah melemah 10 persen. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai masyarakat?
Pelemahan rupiah kerap membuat persepsi saatnya beli Dolar AS. Namun, catatannya pembelian dolar AS saat rupiah melemah sama saja seperti membeli aset yang harganya lagi naik. Berarti, jika rupiah menguat lagi ada potensi kita mengalami kerugian selisih kurs.
Tapi yakin rupiah menguat lagi? saya menilai masih yakin minimal ke area Rp16.500 - Rp17.400 per dolar AS. Sehingga, keputusan membeli dolar AS saat rupiah melemah bukan keputusan yang bijak.
Adapun, pembelian rupiah ke mata uang asing seperti dolar AS bisa dilakukan jika kamu membutuhkannya untuk transaksi bisnis hingga perjalanan. Namun, jika tidak ada tujuan tertentu untuk transaksi dolar AS dan cenderung untuk spekulatif disarankan tidak menukarkan ke mata uang asing.
Tapi, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang signifikan ini meningkatkan penurunan nilai aset dalam rupiah. Nggak sayang jika tetap dalam rupiah? Jawabannya tetap nggak, kecuali setelah rupiah normalisasi mau mulai diversifikasi aset ke dolar AS maupun aset lainnya seperti emas bisa.
Ingat psikologis dalam keuangan, ketika kita mengejar sebuah aset yang lagi booming itu memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan mengumpulkan bertahap ketika aset itu tidak diomongin oleh siapapun.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Pertama, kamu harus pastikan fundamental dana darurat dan cashflow-mu cukup kuat. Pasalnya, pelemahan rupiah berarti ada risiko kenaikan harga bahan pokok dan lainnya dalam beberapa bulan ke depan. Sehingga sekarang kamu bisa fokus mengatur pengeluaran dan pastikan dana darurat cukup.
Guideline dana darurat:
- Single non-generasi sandwich tanpa utang: 3 bulan penghasilan bulanan
- SIngle non-generasi sandwich dengan utang: 12 bulan penghasilan bulanan
- Single generasi sandwich dengan utang: 12 bulan penghasilan bulanan
- Single generasi sandwich tanpa utang: 6 bulan penghasilan bulanan
- Berkeluarga dengan atau tanpa utang: 12 bulan penghasilan bulanan
Catatan: ini menggunakan asumsi penghasilan bulanan lebih besar atau sama dengan pengeluaran bulanan ya. (jadi tidak besar pasak daripada tiang). Dana darurat ini lebih penting karena akan menjadi fondasi bagaimana kamu hidup saat ini jika ada kondisi tidak terduga. Jadi, saran dahulukan dana darurat. Aset untuk menyimpan dana darurat bisa di reksa dana pasar uang.
Kedua, jika kamu ingin menumbuhkan aset setelah syarat pertama dipenuhi. Kamu bisa masuk ke aset yang lagi di-dump. Aset yang orang nggak ngomongin, nilainya sudah turun lumayan. Dalam kondisi saat ini ada saham Indonesia dan Bitcoin.
Kita bisa membuat tujuan masuk ke aset tersebut untuk jangka menengah panjang. Sehingga bisa masuk bertahap (saham fokus dengan fundamentalnya terlebih dulu), serta Bitcoin target hold hingga 2029 (sambil dipantau perkembangannya). Sehingga, kamu bisa mencatatkan pertumbuhan aset sejak aset itu tidak ada yang membicarakannya (belum booming).
Catatannya, kamu harus masuk bertahap karena setelah kamu beli, bukan tidak mungkin nilai aset akan melanjutkan penurunan ya.
Kapan beli emas dan dolar AS? kamu bisa beli saat harganya menjadi lebih wajar. Misalnya, kami ekspektasi harga wajar emas ada di Rp1,7 juta - Rp2,2 juta per gram. Kamu bisa mulai nabung emas secara bertahap (di-platform yang terpercaya) saat menyentuh area tersebut. Sementara itu, rupiah bisa membentuk equilibrium baru di Rp16.500 - Rp17.400 per dolar AS. Tapi, kami saran mulai siapkan reserve dolar AS atau mata uang lainnya saat posisi rupiah di bawah Rp17.000 per dolar AS.