3 Cara Agar Investasimu Tidak Merugi Terus, Pastinya Bukan Pilih Aset yang Lagi Meroket

Kamu merasa investasi malah merugi terus? kami siapkan 3 cara agar kamu tidak mengalami kerugian tersebut. Semuanya ada di sini

investasi anti rugi

Investasi itu tidak semudah memilih aset yang naik berarti bagus. Justru, kita harus masuk ke aset yang belum naik untuk bisa mencatatkan keuntungan yang lebih optimal. Pertanyaannya, bagaimana caranya bisa pilih aset yang belum naik agar keuntungan optimal?

Jika melihat tren-nya, banyak orang yang mulai investasi saat aset itu mulai booming. Misalnya, ketika Bitcoin naik tinggi, semuanya mulai melirik aset tersebut. Begitu juga, ketika emas mencatatkan kenaikan tertinggi sepanjang masa sejak pada 2025, semua langsung memburu emas. Padahal, cara tersebut malah berpotensi membuatmu mengalami kerugian. 

Kenapa malah jadi rugi? karena kamu masuk saat aset naik tinggi yang sudah mencapai puncaknya, setelahnya berpotensi koreksi. Bahkan, hal itu termasuk komoditas emas yang dianggap nggak mungkin turun dalam, tapi harga emas dunia sudah turun 27 persen dari level tertingginya pada Januari 2026, sedangkan harga emas Antam sudah turun 17 persen dari harga tertingginya pada periode yang sama.

Bahkan, jika kamu beli emas Antam di harga Rp3,16 juta per gram, jika ingin jual di harga buyback per 28 Juli 2026 malah bisa rugi 25 persen karena harga buyback ada di Rp2,3 juta per gram.

Jadi, kunci dari investasi yang bisa cuan adalah beli aset yang belum dilirik. Pertanyaannya, bagaimana caranya bisa tahu aset itu bisa naik tinggi?

Pahami Aset yang Mau Diinvestasikan

Untuk tahu aset yang belum naik, kamu nggak perlu info A1, melainkan memahami karakter asetnya. Lalu, ketika aset tersebut ada konsolidasi dengan tidak ada risiko perubahan fundamental secara teknis, berarti saatnya masuk.

Kami coba ulas beberapa aset investasi pilihan:

Pertama, Emas sudah mengalami konsolidasi sebanyak 17 persen (ANTM), dan 27 persen untuk emas global. Faktor utamanya ada ekspektasi suku bunga The Fed naik sehingga ada potensi supply dolar AS berkurang yang membuat posisi dolar AS bisa menguat dan emas cenderung turun. 

Artinya: saat ini harga emas dalam fase konsolidasi yang bisa saja mulai dilirik

Emas ini tipe aset yang cocok untuk safe haven, artinya bisa dipegang dalam jangka panjang. Risiko-nya ada koreksi harga dan kehilangan dalam bentuk fisik, sedangkan keuntungannya hanya dari segi capital gain. .

Kedua, Saham Indonesia secara posisi (untuk saham fundamental) sudah cukup murah, meski masih ada risiko jangka menengah pendek secara makro ekonomi. 

Kelebihan saham Indonesia secara pajak sudah final, bahkan pajak dividen bisa 0 persen jika reinvestasi selama 3 tahun. Kekurangannya, jumlah saham likuid terbatas, risiko jebakan saham gorengan dengan volatilitas tinggi, hingga risiko delisting.

Ketiga, obligasi negara dalam bentuk FR, PBS, ORI, SR yang bisa diperjual-belikan. Saat ini tren suku bunga lagi kembali naik (meski setelah ganti gubernur bank sentral ada potensi perubahan kebijakan). Namun, dengan posisi suku bunga yang lagi naik, harga obligasi biasanya lebih murah dan bisa jadi momentum menarik untuk beli.

Kelebihan obligasi negara ini sangat cocok untuk kamu yang butuh pendapatan pasif rutin dengan potensi keuntungan rata-rata 6-7 persen per tahun dalam jangka menengah panjang dengan risiko rendah. Kekurangannya, tingkat keuntungan tidak terlalu signifikan. 

Keempat, obligasi korporasi yang kerap memberikan keuntungan lebih besar dari obligasi negara. Namun, catatannya, semakin besar tingkat kupon yang diberikan berarti risikonya juga tinggi. 

Kelebihan obligasi korporasi bisa memberikan keuntungan jauh lebih besar dari obligasi negara, ada yang mencapai 8-11 persen per tahun. Kekurangannya, ada risiko gagal bayar jika bisnis perusahaan terkait melambat, likuiditas di pasar sekunder sangat rendah, serta minimal modal cenderung lebih besar dari obligasi negara. 

Kelima, reksa dana yang terbagi ke beberapa pilihan mulai dari reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham, campuran, dan indeks. Kelebihan reksa dana adalah memudahkan kita melakukan cicilan dalam nominal kecil (sedangkan obligasi harus dalam minimal kelipatan Rp1 juta). Sehingga akan sangat cocok untuk kamu yang baru punya modal kecil. 

Dari deretan pilihan reksa dana itu, saya menilai yang cukup bermanfaat dari risk to reward-nya ada di reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Keduanya bisa dijadikan aset likuid untuk dana darurat. Reksa dana pasar uang ditempatkan di deposito dan obligasi kurang dari 1 tahun, sedangkan reksa dana pendapatan tetap di obligasi.

Khusus untuk reksa dana pendapatan tetap disarankan mulai masuk saat posisi suku bunga di atas. Sehingga ketika suku bunga diturunkan, kamu akan mendapatkan potensi capital gain juga.

Keenam, Bitcoin, ini menjadi salah satu aset high risk lainnya yang bisa jadi pilihan.Bitcoin memiliki likuiditas yang cukup solid dibandingkan dengan aset cyrpto lainnya. Apalagi, Bitcoin juga punya siklus tersendiri. Jika probabilitas keuntungan ingin meningkat, bisa mengikuti siklus Bitcoin tersebut.

Seharusnya, 2026 ini akan menjadi fase paling bearish Bitcoin hingga pertengahan 2027. Nantinya, setelah itu, harga Bitcoin cenderung naik hingga periode halving tiba di 2028. Namun, siklus itu konon bisa dipatahkan oleh komputer quantum yang saat ini terus dikembangkan.

Kelebihan Bitcoin jika masuk fase bullish bisa memberikan tingkat keuntungan yang sangat menarik. Lalu, beberapa platform juga menyediakan pendapatan pasif Bitcoin yang pas untuk mendapatkan keuntungan sambil nunggu fase bullish kembali tiba. Meski, yield-nya tidak terlalu tinggi ya.

Kekurangan Bitcoin ada di sisi volatilitas yang bisa cukup tinggi. Hal paling terlarang adalah jangan memaksakan diri beli Bitcoin saat lagi all time high karena risikonya cukup tinggi.

Ketujuh, deposito menjadi salah satu instrumen paling konservatif yang disebut cukup aman. Pasalnya, dalam jumlah keuntungan tertentu (selama di bawah suku bunga LPS) dan nominal tertentu, nilai simpanan akan dijamin oleh LPS. Namun, hati-hati juga dengan oknum yang menipu dengan pura-pura memberikan produk deposito dengan tingkat keuntungan di atas rata-rata ya.

Meski cenderung aman, deposito menjadi aset dengan potensi keuntungan yang paling rendah. Jika di atas bunga LPS, risikonya juga menjadi tinggi jika bank terkait mengalami masalah.

Kedelapan, saham AS memiliki likuiditas yang lebih besar. Namun,untuk investasi saham AS di Indonesia harus menggunakan kontrak penyaluran amanat ke bursa luar negeri (PALN). Dalam skema ini, kita berinvestasi saham AS dengan kontrak berjangka yang underlying-nya saham riil. Dengan skema ini, kita bisa bertransaksi fraksional hingga benar-benar mendapatkan dividen.

Kelebihan investasi saham AS bisa memiliki aset non-rupiah sebagai diversifikasi termasuk manajemen risiko terkait risiko ekonomi domestik.

Kekurangannya, dari segi pajak capital gain masih dikenakan progresif, serta dividen ada pajak 15-30 persen.

Kesembilan, ETF dari bursa global. Exchange Traded Fund (ETF) ini semacam reksa dana tapi biasanya pasif dan mengikuti pergerakan dari acuan asetnya. Misalnya, ETF yang mengacu ke indeks S&P 500 akan cenderung mengikuti pergerakan indeks tersebut.

Kelebihan ETF, kita bisa masuk ke aset-aset dari indeks global, komoditas, obligasi dengan alokasi modal yang fleksibel. Sehingga bisa mendapatkan eksposure dari volatilitas aset global untuk mendorong pertumbuhan aset lebih agresif hingga persiapan manajemen risiko dari aset non-rupiah.

Kekurangan, ETF global masih dikenakan pajak progresif. 

Siapkan Plan dan Atur Money Management

Hal terpenting setelah menentukan aset pilihan adalah kamu membuat rencana dan money management untuk masuk ke pilihan aset terkait.

Misalnya, kamu dengan profil risiko moderat dan melihat ada risiko perlambatan ekonomi yang signifikan mencoba desain portofolio dengan target dana yang dicicil Rp5 juta per bulan. Nah, dari dana itu, kamu ingin atur agar tetap ada porsi ready cash (yang risiko volatilitas rendah), tapi juga nggak mau ketinggalan peluang di aset agresif. 

Hasilnya, kamu bisa memilih aset ETF obligasi / Reksa dana pendapatan tetap, ETF emas atau nabung emas, ETF indeks saham global atau AS, dan dua saham Indonesia dengan karakter bisnis yang berbeda. 

Dari sini, kamu bisa atur porsi sesuai kebutuhanmu misalnya untuk tipe moderat:

  • 20 persen di ETF obligasi atau reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana pasar uang
  • 15 persen di ETF emas atau nabung emas (sebagai lindung nilai)
  • 25 persen di ETF indeks saham AS atau Global
  • 30 persen (masing-masing 15 persen) di saham Indonesia dengan beda karakter.

Jadi, jika ada modal Rp5 juta per bulan, kamu bisa bagi menjadi:

  • Rp1 juta per bulan di ETF obligasi atau reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana pasar uang
  • Rp750.000 di ETF emas atau nabung emas
  • Rp1,25  juta di ETF indeks saham AS atau global
  • Rp1,5 juta (masing-masing Rp750.000) bisa investasi di 2 saham Indonesia yang harganya di bawah Rp5.000 per saham

Jika kamu sudah punya modalnya sekitar Rp100 juta, lalu mau dialokasikan masuk bertahap ke aset tersebut. Kamu bisa buat plan seperti ini:

  • Rp20 juta masuk ke ETF obligasi atau reksa dana pendapatan tetap secara bertahap. Dibagi menjadi 4 kali pembelian. Pantau posisi masuk saat nilai aset mengalami penurunan. Biasanya, harga aset terkait obligasi dan reksa dana pendapatan tetap (terutama yang punya eksposure besar di SBN) akan mengalami penurunan jika ada rencana kenaikan suku bunga. Untuk reksa dana pasar uang bisa masuk dalam periode kapan pun
  • Rp15 juta masuk ke ETF emas atau nabung emas, masuk setiap harga emas lagi koreksi. Bisa dibagi menjadi 5-6 kali masuk.
  • Rp25 juta masuk ke ETF indeks saham AS atau global setiap ada koreksi. Bisa dibagi 5 kali masuk
  • Rp30 juta di saham Indonesia dengan masing-masing Rp15 juta per saham, bisa diatur masuk dengan periode 3-5 kali masuk.

ETF saham global atau US bisa diganti menjadi saham US jika memang ada yang memiliki prospek menarik. Kami memilih ETF berbasis indeks saham AS dan Global untuk manajemen risiko dengan kondisi pasar terakhir.

Pembelian bertahap akan membuatmu bisa menghadapi risiko volatilitas. Diversifikasi aset bisa membuatmu menjaga pertumbuhan portofolio dalam kondisi apapun. Minimal ada aset yang bisa dicairkan menjadi cash dalam kondisi untung. 

Siapkan Risk management

Selain itu, kamu juga harus mempersiapkan risk management jika ternyata tesis di beberapa aset yang kamu perkirakan meleset. Terutama ini terkait di aset pertumbuhan seperti ETF saham global hingga saham Indonesia. 

Risk management dilakukan dengan cara: Kapan kamu menentukan waktu untuk jual aset tersebut meskipun mengalami kerugian?

Misalnya, untuk saham kamu akan jual jika realisasi kinerja keuangan dari hasil ekspansi tidak sesuai ekspektasi hingga ternyata ada risiko bisnis yang bisa mengubah fundamental. Sementara itu, dalam ETF obligasi atau reksa dana pendapatan tetap bisa dilepas dalam kondisi merugi dengan catatan ada aset yang potensial dengan harga yang lebih murah sehingga kerugian di ETF obligasi hingga reksa dana pendapatan tetap (yang jika masuk dalam momentum tersebut, kamu berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih menarik).

Selain itu, risk management juga bisa dilakukan ketika kamu sudah mencatatkan keuntungan yang cukup signifikan, kamu mulai merealisasikan modal secara bertahap agar keuntungan bisa tetap didapatkan dan jika lanjut naik, kamu masih punya posisi.

Jika kamu tertarik mempelajari manajemen multi aset, kamu bisa ikut event terbaru Mikirduit, yakni WEALTHVERSE: Belajar Multi Aset Agar Duit Bertumbuh

Event akan dilakukan secara online pada 22-23 Agustus 2026. Kamu bisa dapatkan harga early bird di Rp175.000 per peserta dari harga normal Rp350.000 hingga 10 Agustus 2026 dengan kuota terbatas hanya untuk 100 tiket early bird.  Klik di sini untuk melakukan pendaftaran sekarang juga